Tag

Sumber hadits dari Nabi Shollallohu ‘Alaihi Wasallam, Nabi bersabda: “Pada suatu hari, ada tiga orang laki-laki yang sedang bertamasya di suatu tempat tiba-tiba turun hujan, lalu mereka pergi menuju goa yang berada di sebuah gunung yang ada di dekat situ untuk berteduh. Tiba-tiba, ada sebuah batu besar yang jatuh dari atas gunung tepat menutup mulut goa yang mereka tempati. Setelah segala bentuk upaya untuk menggeser batu besar yang menutup pintu goa itu gagal, maka salah seorang di antara mereka berkata kepada sebagian yang lain: “Cobalah kalian perhatikan (ingat-ingat kembali) amalan-amalan sholih yang pernah kalian kerjakan dengan karena Alloh, lalu berdo’alah kalian kepada Alloh dengan menceritakan kembali amalan-amalan sholih tersebut, barang kali saja Alloh berkenan menggeser batu itu”.  

Kesaksian 1:

- Maka salah satu orang dari mereka, berdo’a: “Ya Alloh, sesungguhnya saya ini masih punya kedua orang tua yang sudah tua renta, sementara saya sendiri mempunyai seorang anak yang masih kecil, sayalah yang merawat mereka semua. Sedangkan pekerjaanku menggembala dan mencari rumput, pulang-pulang sudah sore. Kalau masih ada waktu luang saya gunakan untuk memerah susu, dan saya selalu memulai memberi minum air susu dari perahan tersebut kepada kedua orangtua saya sebelum anak saya. Setiap kali saya pulang kerumah ternyata kedua orangtua saya sudah tidur, maka saya memerah susu sebagai mana biasa, lalu saya datang dengan membawa susu, terus saya berdiri disisi kepala kedua orangtua sata, namun saya merasa ewuh/enggan bila akan membangunkan mereka berdua dari tidurnya, dan saya pun merasa nggak enak jika akan mendahulukan anak saya sebelum mereka berdua, padahal anak saya itu menangis merengek-rengek di sanping telapak kaki saya. Begitulah kebiasaan saya sehari-hari hingga terbit fajar. Maka, jika sesungguhnya Engkau mengetahui bahwa saya melakukan itu semata-mata hanya karena mencari wajah-Mu, maka bukaklah satu bukaan saja pintu goa ini untuk kami agar kami dapat melihat langit dari bukaan itu! Maka betul, Alloh menggeser batu besar itu dengan satu geseran sehingga mereka dapat melihat langit dari sela-sela batu besar yang telah tergeser itu.

Kesaksian 2:

- Dan orang yang ke dua, berdo’a: “Ya Alloh, sesungguhnya saya punya saudara perempuan sepupu (anak perempuannya paman), saya sangat mencintainya seperti layaknya seorang laki-laki yang sangat mencintai pacarnya. Maka timbul hasrat saya ingin menggagahi dirinya, ternyata dia menolak sehingga saya memberinya uang 100 Dinar (baru dia mau). Lantas, saya berusaha sekuat tenaga sehingga saya dapat mengumpulkan uang 100 Dinar. Terus, dengan membawa uang 100 Dinar itu saya menemuinya. Nach., ketika saya telah duduk di antara kedua kakinya, dia berkata: “Hai Abdalloh, takutlah kepada Alloh, dan jangan engkau buka tutup ini! Langsung saya berdiri meninggalkannya. Ya Alloh, kalau memang Engkau tahu, sesungguhnya saya melakukan itu, benar-benar semata-mata hanya karena mencari wajah-Mu, maka geserlah batu besar itu untuk lewat kami! Maka betul, Alloh menggeser batu besar itu dengan satu geseran lagi untuk lewat mereka.

Kesaksian 3:

- Dan orang yang terakhir, berdo’a: “Ya Alloh, saya punya pegawai yang saya beri upah 1 faruq padi (2,5 Kg gabah kering), ketika dia telah merampungkan pekerjaannya, dia berkata: “Berikanlah hak saya kepada saya”. Maka saya berikan haknya kepadanya. Ternyata dia meninggalkan haknya itu begitu saja karena dia tidak suka. Maka padi tersebut terus-menerus saya tanam sehingga dari padi tersebut saya tabung menjadi sapi sekalian dengan penggembalanya. Maka suatu sa’at dia datang lagi pada saya, lalu dia berkata: “Takutlah kepada Alloh, dan engkau jangan mendhzolimi/menganiaya saya, dan berikanlah hak saya”. Langsung saya berkata: “Pergilah kamu ke sapi itu dan pengembalanya! Lantas dia berkata: “Takutlah pada Alloh, dan jangan hina saya”. Maka saya berkata: “Sesungguhnya saya tidak menghina kamu, maka dari itu ambillah sapi itu dan sekalian penggembalanya”. Lalu dia mengambil sapi itu sekalian penggembalanya, terus dia pergi dengan membawa sapi serta penggembalanya. Maka, jika Engkau (Alloh) itu memang mengetahui, sesungguhnya saya melakukan itu semua semata-mata mencari wajah-Mu, maka geserlah apa-apa yang masih tersisa!”. Maka betul, Alloh menggeser batu besar itu dari asalnya menutupi mereka. (HR. Bukhori. K. Adab. Juz 8 Hal 3).

Pintu goa akhirnya terbuka

Ketiga kesaksian di atas merupakan sebuah cerita fakta dari amalan andalan yang didasari dengan niat karena Alloh: Kesaksian pertama adalah meskipun dalam keadaan repot dan capek masih bisa sabar dan ta’dhzim kepada kedua orang tua mengalahkan sayang kepada anak. Kesaksian kedua adalah membathalkan nafsu birahi ingin menggagahi saudara perempuan sepupu dalam keadaan yang sudah siap pakai. Kesaksian ketiga adalah kejujuran yang luar biasa dari seorang majikan sehingga berhasil mengembangkan upah buruh pegawainya yang pernah ditolak sehingga menjadi sapi dan penggembalanya yang dapat dijadikan sebagai modal usaha. Dan tiga amalan andalan ini mendapat ganjaran dari Alloh secara langsung “instant” dalam bentuk do’a mereka yang terbukti langsung dikabulkan yaitu Alloh menggeserkan batu besar yang menutup pintu goa secara bertahap yang pada akhirnya mereka dapat keluar dari dalam goa tersebut dengan tanpa harus bersusah payah menghabiskan tenaga mereka. Kemudian bandingkan dengan amalan andalan dalam cerita yang terdahulu, yaitu: Seorang jawara yang mati di medan perang. Seorang dermawan yang menyerahkan seluruh hartanya untuk kepentingan Sabilillah. Seorang Qori’ kondang yang memiliki suara merdu sampai mendapat julukan “Kamu keluarga Nabi Daud, ya?” saking ta’jubnya. Ketiga amalan ini jauh lebih berat dalam melaksanakannya, misal: untuk menjadi sang jawara, tentu memerlukan latihan fisik yang tidak ringan, belum lagi mesti sering mengikuti arena pertandingan melawan lawan-lawan tangguh untuk mengukur batas kemampuan sebelum maju ke medan perang. Untuk menjadi dermawan, tentu butuh kesabaran dan menejemen keuangan yang tepat guna, kerja giat, tirakat banter (kuat berpuasa), muzhid-mujhid (zuhud: hidup hemat) agar dapat mengumpulkan uang dari sedikit demi sedikit dalam waktu yang tentu tidak singkat sehingga kapan saja Sabiilillaah memerlukan ke uangan selalu siap pakai. Untuk menjadi Qori’ kondang, di samping bakat tentu perlu latihan fisik juga, menghindari makanan tertentu, minuman tertentu pula agar suara tetap terjaga merdunya, dan butuh waktu lama, jam terbangnya pun sudah banyak sehingga ketika tampil di Musabaqoh Tilawatil Qur’an suaranya mendayu-dayu membuat semua orang yang mendengarnya berdecak kagum. Namun, kenyataan sebagai hasil akhirnya adalah mereka dimasukkan kedalam neraka Jahannam dan mendapatkan siksa yang berat. Penyebabnya adalah niatnya tidak karena Alloh, ingin disebut “Pemberani”, ingin disebut “Dermawan”, ingin disebut “Qori’ kondang yang bersuara merdu”. Oleh karena itu, janganlah sekali-kali mengharapkan sanjungan atau pun imbalan kecuali imbalan dari Alloh berupa pahala. Dan katakanlah!:

Artinya: “Aku tidak meminta harta benda kepada kalian (sebagai upah) atas menyampaikan agama, tidak ada imbalan/upah saya kecuali atas (dari) Alloh”. (QS.Huud, No : 11, Ayat : 29, 51), (QS. Yusuf, No : 12, Ayat : 104), (QS. Al-An’Am, No : 6, Ayat : 90).

Ta’dhziim dan tho’atnya anak kepada kedua orang tua, terutama kepada ibu, karena ibu punya hak, dan jika kita tahu maka besar sekali hak ibu. Coba kita bayangkan, segala usaha kita yang banyak itu bila untuk menebus jasa ibu kita, itu kecil sekali. Coba kita bayangkan ketika ibu kita akan melahirkan kita, berapa malam ibu kita sudah menahan sakit, menanggung beban berat mengandung kita, pada saat itu ibu kitapun mengaduh, sebab sakit yang sedang dia rasakan, ibu kitapun merintih, menangis sampai suaranya parau, dan terkadang sesekali ibu kita berteriak kesakitan. Dan pada sa’at-sa’at akan melahirkan, seandainya kita mengerti yang sedang dirasakan oleh ibu kita, sebenarnya ibu kita sedang menanggung beban resiko yang berat sekali. Karena berat, sukar dan sulitnya melahirkan kita, ketika itu seolah-olah jiwanya melayang. Sejenak kita renungkan, sudah berapa banyak yang sudah ibu kita bersihkan dari segala kotoran kita yang ada, ia bersihkan dengan tangan kanannya sekali pun. Dan ingatkah kita bahwa dulu bagi kita ibu adalah tempat tidur yang nyaman. Dan ibu kita selalu siap menebus dan membayar apa saja yang kita pinta, ibu kita mengusahakannya dengan jerih payahnya sendiri (terkadang sampai buruh tandur, matun, ngerek, derep, ngasak: bahasa Jawa). Dan dari payudara ibu kita tersedia air susu yang siap mengalir setiap saat untuk kita. Seringkali terjadi ibu kita menderita lapar, namun ibu kita rela menyerahkannya kepada kita. Semua itu karena ibu kita itu mempunyai rasa kasih sayang kepada kita yang luar biasa, sayang ketika itu kita masih kecil.

Maka, hina sekali, celaka, terkutuk bagi kita sebagai seorang anak yang berakal sehat, kalau sampai berani menentang, melawan, menyakiti lahir atau bathin ibu kita karena hanya menuruti hawa nafsu. Dan hina sekali, celaka sekali bagi kita yang buta hati, sedang mata kita dapat melihat. Maka dari itu, carilah kita cari budi upaya untuk memuliakan ibu kita, mumpung dia masih hidup menemani kita untuk yang kesekian kalinya, senangkan hati kita untuk memperbanyak minta do’a ibu kita, sebab kita masih banyak membutuhkan do’a ibu. Ibu kita selalu mendo’akan pada kita dengan do’a yang baik-baik, agar kita menjadi anak yang pandai, berguna bagi nusa, bangsa, negara, agama dan bisa berbakti, tho’at kepada kedua orang tua, dan agar menjadi anak yang sholih dan sholihah, yang ‘alim (berilmu tinggi), berakhlaqul karimah dan mandiri.

Di samping kita juga harus ta’dhziim dan tho’at kepada bapak kita. Nach.., Ta’dhziim dan tho’at kepada kedua orang tua kita itu, janganlah dilandasi hanya karena merasa takut hukuman atau karena takut jika tidak ta’dhziim dan jika tidak tho’at nanti tidak akan diberi uang, atau ta’dhziim dan tho’atnya hanya karena biar diberi uang oleh orang tua kita. Sebab, jika kita sebagai seorang anak baru mau ta’dhziim dan tho’at kepada orang tua kita kalau orang tua kita sudah mengancam akan memberi hukuman atau akan memberi uang, maka apa jadinya nanti apabila orang tua kita sudah udzur, tidak punya tenaga dan sudah tidak mampu lagi memberinya uang, boleh jadi keta’dhziiman dan keta’atan kepada orang tua kitapun akan hilang.

Memang ada pendapat bahwa yang dapat dipahami oleh anak usia tertentu hanyalah yang berupa hukuman (seperti: dijewer telinganya, disetrap) atau diberi hadiah, dia tidak paham apa itu pahala keculi Alloh menghendakinya, maka anak-anakpun dapat memberikan petunjuk kepada teman-temannya, bahkan kepada orang dewasa. Firman Alloh di dalam Al-Qur’an, Surat Al-Lail, No: 92, Ayat: 12 :

Artinya: “Sesungguhnya kewajiban Kami Alloh memberi petunjuk”. (QS.Al-Lail, No: 92, Ayat : 12).

Lihatlah seorang Ismail bin Ibrohim dalam sejarah Islam, sejak dari lahir tidak dibesarkan di sisi ayahnya, akan tetapi Ismail tetap bisa ta’dhziim dan tho’at kepada orang tuanya. Ketika dia sudah beranjak aqil-balligh dan mulai bisa bekerja membantu ayahnya. Dalam kondisi puncak kangen dan rindunya seorang anak kepada seorang ayah yang sudah sekian lama tidak berjumpa, begitu juga bagi seorang ayah yang sudah sekian lama mendambakan seorang anak yang sholih. Sekalinya bisa dekat, tiba-tiba mendapat perintah dari Alloh agar anak laki-lakinya yang tampan itu disembelih untuk qurban sebagai bukti pasrah dan takwanya kepada Alloh.

Adapun ceritanya begini; Nabi Ibrohim ‘Alaihi Salam, berdo’a: ”Ya Tuhanku, berilah aku seorang anak yang sholih”. Maka Kami (Alloh) memberinya khabar gembira dengan akan lahirnya seorang anak laki-laki yang aris (bijaksana, tidak cepat memvonis). Maka ketika anak itu telah sampai usia balligh, sudah bisa diajak usaha bersamanya, Nabi Ibrohim berkata: “Hai anakku, sesungguhnya aku bermimpi menyembelihmu, maka berpikirlah apa pendapatmu!”. Ismail berkata: “Hai ayah, kerjakanlah apa yang telah di perintahkan kepadamu, Insyaa-Alloh engkau akan menjupai aku termasuk orang yang sabar”. Maka, ketika keduanya telah berserah diri dan Nabi Ibrohim sudah membaringkan pelipis Ismail. Dan Kami panggil dia “Hai Ibrohim, sesungguhnya engkau telah membenarkan mimpimu”. Sesungguhnya demikianlah Kami membalas kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar merupakan suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus dia dengan seekor sembelihan yang besar. Dan Kami telah menjadikannya sejarah di kalangan orang-orang akhir (generasi berikutnya untuk meniru kesabaran dan ketho’atannya dalam menghadapi ujian). Semoga keselamatan senantiasa tetap kepada Ibrohim. (QS. Ash-Shoffaat, No : 37, Ayat : 100-109).

Peristiwa besar ini membuktikan betapa ta’dhziim dan tho’atnya seorang anak kepada orang tuanya, meski pun terhadap orang tua yang nyaris tidak memberinya kebahagian materi sama sekali dan tetap semata-mata karena Alloh. Maka, peristiwa ini diperingati dan dirayakan oleh umat Islam pada setiap tahunnya dengan menyembelih hewan qurban, yang disebut dengan ‘Iedul Adha atau hari raya qurban.

Ta’dhziim, tho’at dan cintanya seorang isteri kepada suami, janganlah dilandasi hanya karena semata-mata ingin mendapat balasan apa pun selain karena Alloh, mencari fahala, mencari keridhoan Alloh semata. Karena isteri harus ta’dhziim dan tho’at kepada suaminya itu sudah menjadi perintah Alloh dan Rosul-Nya, dan sudah direkomendasikan di dalam Kitab suci Al-Qur’an dan Al-Hadits. Bagi seorang isteri hendaknya dapat bermain cantik dalam menjalani atau menjadi peran. Kalau isteri sedang berperan sebagai pembantu ketika suami sedang repot, maka jadilah pembantu yang baik, yang jujur. Kalau sedang menjadi peran sebagi dokter pribadi ketika suami sedang sakit, maka jadilah seorang dokter yang ramah, yang profesional. Kalau sedang berperan menjadi teman ketika suami sedang punya masalah, maka  jadilah teman tempat curhat yang setia, yang penuh pengertian. Kalau berperan sebagai pacar ketika suami sedang puber, jadilah pacar yang mesra. Nach, ketika saatnya berperan sebagai isteri, maka jadilah seorang isteri yang sholihah, yang terbuka sehingga suami betah berlama-lama di rumah, dengan demikian isteri dijamin tidak akan menyimpan PIL (pria idaman lain). Pada sa’at menjadi peran, baik itu peran sebagai pembantu, atau dokter, teman, pacar maka untuk sementara waktu status isteri diletakkan dahulu agar tidak mudah tersinggung. Baru kemudian, ketika berperan sebagi isteri status isterinya di pakai lagi dan puaskan hati untuk memiliki dan menikmati suami, silahkan terbuka untuk saling berbagi…, ungkapkan keinginan birahi untuk mencapai puncak kenikmatan bersama. Percayalah suami anda menikahi anda itu karena ada kelebihan pada diri anda, tonjolkan kelebihan itu, lalu tutupi yang tidak disukai suami anda. Contoh: Satu nasehat pada sang isteri, pada suami jangan berani, meminta itu, meminta ini, akhirnya ngutang sana dan sini. Kalau suami rupanya gelisah, ketahuilah ada yang salah, janganlah mudah ambil pengrasa (diambil hati), serahkan saja pada Yang Esa. Perintah suami wajib diturut, lekas-lekaslah hendak disambut, kata sepatah jangan direbut, akhirnya merengut menjadi ribut.